dr. Anjar Setiani
Tampilkan postingan dengan label dr. Anjar Setiani. Tampilkan semua postingan

Senin, 18 Februari 2019

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Kalau kalian yang baca dengan judul ini, apa yang kalian pikirkan? Ditambah lagi ada sponsorship dari salah satu lembaga sekolah ternama. Kalau saya, yang terpikirkan pertama kali dengan judul ini adalah lembaga sekolah itu akan jualan dan akan menyarankan untuk para mommies audience agar menyekolahkan anaknya sedari dini. Skeptis banget ya saya, walau suudzon saya tetap daftar dong talk show ini, karena saya ingin tau dari sudut pandang yang berbeda, karena kalau sudut pandang saya, pendidikan anak terbaik itu ya dari rumah, agar dia tau dulu benar dan salah baru deh dilempar keluar A.K.A sekolah. Pada saat datang talk show dan mendengarkan para pembicara, saya merasa sangat bersalah, isinya bagus banget dan jauh dari apa yang saya bayangkan, ternyata yang dimaksud Pendidikan Anak Usia Dini itu bukan seperti mindset saya yaitu sekolah, tapi pendidikan yang diajarkan di rumah sedari dini, bahasa kerennya yaitu stimulasi. Pelajaran banget deh, ngga boleh suudzon. Memang ya, kalau mau datang mencari ilmu harus "null" dan mengosongkan prasangka-prasangka. Karena isinya super bagus menurut saya dan yang hadir cuma sedikit, rasanya sayang gitu ada ilmu tapi tidak banyak yang tau, sehingga saya ingin merangkum di blog saya agar banyak yang baca dan tau, terus kalau suatu saat saya lupa juga saya bisa membacanya kembali.

Ada 3 wanita hebat selaku pembicara di talk show yang diadakan di daerah dharmawangsa ini, yaitu dr.Anjar Setiani, SpA selaku Dokter Spesialis Anak, beliau praktek di KMC, Ratih Larasati M. Psi selaku Psikolog dan Antarina SF Amir selaku Pendiri HighScope Indonesia.
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini

Sesi pertama dibawakan oleh dr. Anjar, beliau menyampaikan bahwa golden age anak sampai umur 5 tahun dan 80% perkembangan otak anak berada di 1000 hari pertama kehidupan, 270 hari (9 bulan dalam kandungan) + 730 hari (usia 2 tahun). Untuk mengoptimalkannya, dibutuhkan asupan yang baik dan stimulasi. Stimulasi itu sangat penting, agar sinaps (sambungan antar sel otak) maksimal. Sinaps ini juga ada kaitannya dengan daya ingat. Contohnya seperti kita belajar sepeda, Latihan berkali-kali akan mendorong sinyal ke otak yang mengatur kemampuan motorik. Semakin kuat hubungan antar sinaps maka tubuh kita akan semakin ingat dan lihai dalam mengayuh sepeda.

Untuk mendapatkan tumbuh kembang yang optimal, si anak butuh 3 hal dasar :


  • ASAH (Stimulasi)
  • ASIH (Kasih Sayang)
  • ASUH (Sandang Pangan Papan)

Anak itu sudah bisa distimulasi sedari New Born, bahkan dengan proses ini kelima panca inderanya bekerja, gimana caranya? Direct Breastfeeding dan dengan proses ini sinaps-sinaps akan terbentuk dengan baik. Kok bisa menyusui menstimulasi 5 panca inderanya?


  1. Indera Penglihatan. Saat menyusu si bayi akan menatap ibu nya. Akan ada eye contact antara ibu dan anak. Duh maaf ya Ken, pas Kenzie baru lahir mama keseringan buka IG sambil nyusuin 😭, penyesalan memang selalu belakangan, kalau di depan kan pendaftaran. Jadi ibu-ibu yang lain kalau bisa minimalisir deh menyusu sambil di sambi-sambi nya, kalau butuh hiburan boleh lah ya sesekali tapi kalau bisa jangan sih, kelak akan ada rasa penyesalan karena kan kita ngga bisa mengembalikan umur anak.
  2. Indera Peraba. Saat menyusu si bayi akan sering menyentuh ibu nya, makanya tidak disarankan si anak diberikan sarung tangan saat menyusu.
  3. Indera Pengecapan. Disini lah si bayi pertama kali belajar mengenal rasa. 
  4. Indera Pendengaran. Saat menyusu ajak bicara si anak.
  5. Indera Penciuman. Dia akan tau aroma ibunya, makanya dulu si Kenzie akan tau kalau mamanya ngabur, pasti dia langsung nangis. 
So, mama mama baru jangan lupa ya menyusui anaknya. Selain ASI itu kandungannya luar biasa mujarab, ternyata proses saat menyusuinya pun masya Allah 😭 Kalau ada buibu yang lagi kurang semangat, coba baca ini https://www.raniprovit.com/2018/10/mengasihi-dengan-keras-kepala.html semoga bisa memberikan semangat lagi, karena proses mengASIhi yang saya jalani pun tidak semulus muka unie-unie korea.

Stimulasi memang sangat penting untuk anak, tapi orang tua pun harus memberikan stimulasi sesuai tahap perkembangan si anak, jangan sampai anak merasa over stimulation, karena dampaknya juga tidak baik, mungkin saat kecil anak akan nerima tapi dengan bertambahnya usia dan kita terus pupuk hal yang dia tidak suka, lambat laun akan menjadi bom waktu bagi anak, saat besar si anak akan menolak, tidak suka bahkan hal terburuknya si anak bisa memberontak.
Tahapan Perkembangan Literasi Anak :
2 - 4 Tahun
  • Pengembangan bicara dan bahasa (sering dibacakan cerita)
  • Ketrampilan motorik halus dasar. Contoh : berikan anak pensil dan biarkan anak mencoret-coret. Jangan paksakan anak untuk menulis apa yang kita inginkan, biarkanlah dia berkreasi. 
  • Mengenal angka satu digit
  • Menghitung benda (tidak lebih dari lima)
4 - 5 Tahun
  • Pengenalan huruf dan angka
  • Permainan mencari jalan, menghubungkan titik untuk membentuk huruf dan angka
  • Mengenal angka 1-20
  • Menghitung benda (tidak lebih dari 20)
6 - 7 Tahun
  • Mahir membaca dan menulis
  • Memahami penjumlahan dan pengurangan
Menurut KEMENDIKBUD, PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) dibagi 3 bagian, yaitu
  1. Informal : Pendidikan Keluarga
  2. Non Formal : Kelompok Bermain (KB) dan Taman Penitipan Anak (TPA)
  3. Formal : Taman Kanak-Kanak (TK) dan Raudhatul Athfal (RA)
Pentingnya Pendidikan Anak Usia Dini
Flow PAUD

Yang perlu kita ingat, pendidikan informal - non formal - formal apabila diterapkan kepada anak harus selaras, agar hasil yang didapatkan optimal. 
Dan PAUD itu harus sesuai dengan sifat anak, yaitu senang, aktif, demokratis dan tidak terpaksa.

Sesi Kedua dibawakan oleh Ratih Larasati, tema yang diusung yaitu 
"Perlukah Semua Anak Bersekolah Lebih Dini"
Saat sharing session kemarin, Mba Ratih menjelaskan Anak butuh stimulasi yang tepat agar bisa melaksanakan tugas perkembangannya dengan baik. Orang tua lah sebagai media fasilitator agar anak bisa memenuhi semua tahapan perkembangannya. Gambar dibawah ini adalah contoh tahapan kognitif pada anak.
Tahapan Kognitif anak 18 Bulan


Tahapan Kognitif anak 2 Tahun
Tahapan Kognitif anak 3 Tahun
Namanya juga fasilitator, tentu orang tua harus mendampingi dan menjelaskan ke anak, agar si anak tidak bingung. Seperti mendampingi saat membaca, yang diharapkan adalah kita mengeksplor apa yang ada di gambar tidak hanya membaca teks buku tersebut, dengan hal tersebut bisa melatih juga untuk kreatifitas si anak, karena menimbulkan rasa penasaran si anak. Sebenarnya, apapun kegiatannya asal didampingi akan baik. Bahkan nonton tv pun baik saat didampingi asal jangan berlebihan ya nontonnya, saat si anak menonton kita bisa menjelaskan berbagai macam hal, sayangnya banyak dari kita yang mengambil kesempatan saat anak menonton untuk beberes, me time, termasuk saya sendiri, saat Kenzie nonton itu biasanya saya dan papanya beberes atau kalau lagi berdua aja di rumah cuma tv jalan satu-satunya biar saya bisa mandi dan dia ngga ikutan masuk ke kamar mandi. Oh ya penting banget nih, yang mendampingi itu orang tua ya, jadi bukan hanya ibu tapi bapaknya pun wajib mendampingi. Harusnya suami saya ikutan sharing sessionnya nih kemarin, fuuu.
Sebagai orang tua, kita pun harus membangun trust  si anak, karena pelajaran semuanya di mulai ya dari rumah, apabila kita tidak mengajarkan trust di rumah, akan sulit nantinya dia trust dilingkungkannya. Contoh hal kecil dalam membangun trust si anak, misal saat ingin pergi ke kantor, perginya jangan ngumpet-ngumpet atau bilang iya mama pergi sebentar kok nanti juga pulang lagi. Hal ini akan menimbulkan asumsi dan trust yang dimiliki si anak akan rendah. Ungkapkan saja ke anak sesuai kondisinya, misal ibu nya kerja, ya bilang aja ibu kerja, kamu main di rumah dulu sama nenek selama ibu kerja, nanti malam saat ibu pulang kita main bersama kembali. Kalau dibiasakan seperti ini sejak awal, dia akan mengerti kok, saya sudah menerapkan hal seperti ini ke Kenzie sejak awal saya mulai masuk kerja, sehingga sekarang kalau pergi ya ngga perlu ngumpet-ngumpet, bahkan dia yang nganterin saya sampai naik ojek online, lalu dia akan dadah-dadah. 
Bahasan terakhir yang dibawakan oleh Mba Ratih, Jangan lupa ibu harus bahagia, karena sudah ada risetnya, apabila ibu nya bahagia keluarganya juga akan bahagia, karena Ibu adalah matahari dalam keluarga. Jadi sebagai Ibu, kita harus tau apa hal-hal yang bikin kita bad mood, marah. Kalau sudah dititik itu, istirahat lah, carilah apa yang kalian sukai, lalu kembali lagi ke keluarga dengan rasa bahagia. Asik besok minta jajanin apa ya ke suami, kan biar bahagia 😝
Kembali ke judul awal Perlukah Semua Anak Bersekolah Lebih Dini? Jawabannya tergantung keluarga masing-masing, karena semua keluarga berbeda, orang tua lah yang perlu menilai kesiapaan anaknya. Misal orang tua nya di rumah bisa menstimulasi anaknya di rumah dengan maksimal berarti anaknya belum perlu untuk bersekolah, akan tetapi jika orang tua nya terlalu sibuk dan khawatir yang mengasuh di rumah tidak mampu untuk menstimulasi dengan maksimal, ya lebih baik di sekolahkan. 
Ratih Larasati
ki - ka : MC, dr. Anjar, Mba Ratih


Sesi terakhir dibawakan oleh Ibu Antarina SF Amir, sungguh materi yang dibawakan bagus sekali, sayang mulai acaranya telat sehingga Ibu Antarina membawakannya agak terburu-buru karena pihak panitia terus memperingatkan mengenai durasi.
Materi yang dibawakan oleh Mba Ratih dan Ibu Antarina berkaitan, tapi Ibu Antarina lebih menjelaskan mengenai cara mendorong (push learning approach) anak agar sesuai dengan ketertarikannya.
Pull Approach vs Push Approach

Seperti contoh, ada anak bernama nora, untuk memotong kertas dia tidak bisa menggunakan gunting, dia bisanya menyobek kertas tersebut dengan tangan. Sebagai orang dewasa yang kita lakukan biasanya memaksa si anak untuk menggunakan gunting (Vertical Approach), ternyata bukan itu cara terbaik. Biarkanlah si anak tetap menyobek-nyobek kertasnya sesuai yang dia bisa (Horizontal Approach) dan kita mencontohkan di sebelahnya menggunakan gunting, lambat laun dia akan tertarik dengan apa yang kita lakukan, tapi dia melakukannya dengan happy tidak dengan paksaan. Hal ini sangat berpengaruh akan kepercayaan diri, motivasi, love of learning, dan enjoyable si anak. Menurut saya 4 hal tersebut penting, karena inilah kunci dasar yang dibawa sang anak sampai dia besar kelak. 
Sekarang itu lagi banyak yang namanya mompetition, apalagi liat insta story si anu si itu kok anaknya udah bisa A, B, C, D, lalu tanpa kita sadari, kita akan menarik (pull learning approach) anak untuk melakukan agar bisa seperti teman-temannya. Padahal hal yang seperti ini bahaya loh, kenapa? Saat kita menarik tapi si anak tidak siap, dia akan kehilangan yang namanya self confident dan the love of learning, hal basic tapi crucial yang akan mempengaruhi gimana si anak bersikap saat dewasa kelak
"They Do When They Ready" 
They Talk When They Ready
They Walk When They Ready
They Read When They Ready
Lalu bagaimana caranya biar si anak siap, berilah stimulasi dan lihat ketertarikan si anak.
Penting bagi orang tua atau pun guru untuk mengembangkan apa yang disukai oleh si anak, apabila lingkungannya hanya memberikan pressure, maka si anak akan "gila" dan tidak ada semangat untuk belajar.

Tentunya kita (saya sih) ingin memiliki anak yang bisa mengambil keputusan, berani berbicara, kreatif dan enjoy dengan apa yang dijalaninnya, kunci dari hal tersebut adalah, berikan experience ke anak sebanyak mungkin, lihat ketertarikan anak, beri semangat dan dorong si anak berdasarkan apa yang dia inginkan dan jangan lupa harus ada keselarasan antara orang tua, sekolah, dan yang mengasuh anak (apabila orang tua si anak keduanya bekerja)
Antarina SF Amir
ki - ka : MC, Mba Ratih, Ibu Antarina

Ngga lupa dong ya, foto saya juga mesti mejeng

* Semoga sharing saya bermanfaat 😊 *
© raniprovit
Maira Gall