Financial
Tampilkan postingan dengan label Financial. Tampilkan semua postingan

Rabu, 10 April 2019

Menghindari Investasi Bodong


Menjadi kaya dan memiliki banyak uang tentunya menjadi impian banyak orang. Apalagi jika bisa didapat dengan cara yang mudah dan cepat atau instant. Hal inilah yang banyak membuat orang menjadi gegabah untuk bisa mendapatkan kekayaan dengan mudah. Iming-iming dari oknum-oknum yang menawarkan investasi yang bisa memberikan imbal balik yang besar dalam waktu yang cepat membuat kita semakin tergoda.

Dewasa ini banyak bermunculan berbagai macam tawaran investasi. Mulai berupa simpanan seperti deposito. Berupa barang-barang komoditas seperti emas dan perak. Berupa asuransi atau unit link. Hingga saham, reksa dana dan forex atau valuta asing. Semua instrument investasi tersebut menjadi pilihan tergantung resiko dan karakteristik masing-masing calon investornya. Yang lebih memilih untuk “bermain” aman, mungkin akan lebih memilih deposito atau emas untuk menjadi sarana investasinya. Lambat tapi pasti. Imbal balik tak seberapa namun aman. Yang suka bermain dengan resiko, mungkin akan memilih saham atau forex. Karena berharap imbal balik yang besar. Sesuai dengan prinsip dasarnya yaitu high risk high return.


Namun, di tengah banyaknya pilihan investasi dan , banyak pula orang yang memanfaatkan kesempatan dengan membuat investasi bodong. Investasi bodong belakangan ramai dibicarakan orang. Banyak orang-orang yang menjadi korban mulai dari kalangan masyarakat biasa hingga artis. Jumlahnya pun tidak sedikit dari yang jutaan bahkan ada yang sampai miliaran. Jumlah yang fantastis bukan?  Bentuk investasi bodong tersebut juga berbacam-macam. Ada yang dilakukan oleh orang perorang. Ada pula yang membuat lembaga atau badan usaha seperti koperasi.

Untuk mengetahui mana itu investasi yang asli dan mana itu yang merupakan investasi bodong, berikut sedikit tipsnya


1.    Pelajari tawaran investasi yang masuk kepada anda.


Banyak orang yang bisa saja menawari anda investasi. Saat ini investasi memang sangat mudah dilakukan. Bahkan bisa dilakukan melalui ponsel anda. Jika anda mendapat tawaran investasi, pelajarilah investasi apa itu. Sejatinya jika anda berinvestasi, maka anda menginvestasikan uang anda pada sebuah bisnis. Ini hal mendasar yang banyak orang tidak menyadari. Contoh, anda menaruh uang anda di deposito di bank. Uang yang anda depositokan akan “diputar” oleh bank. Seperti disalurkan kredit, diinvestasikan di saham dan lain lain. Jadi, jika anda berinvestasi, ketahuilah bisnis yang dijalankan. Jangan pernah berinvestasi pada sesuatu yang anda sendiri tidak tahu pada bisnis apa anda berinvestasi yang dijalankan. Investasi itu memang selalu ada resikonya. Tidak ada investasi yang terlepas dari unsur resiko. sekalipun deposito yang kita anggap selama ini paling aman


2.    Jangan pernah tergiur dengan imbal balik dalam jumlah besar dalam waktu yang cepat.


Banyak orang yang terperosok ke dalam investasi bodong karena tawaran bunga atau imbal balik investasi yang besar. Perlu anda ketahui, Imbal balik yang besar dari sebuah investasi itu berbanding lurus dengan waktu yang diperlukan. Warren Buffet, seorang yang terkenal dengan kesuksesannya karena berinvestasi dan menjadi 5 besar orang terkaya di dunia, membangun kekayaannya tidak dalam waktu 1 atau 2 hari. tidak dalam hitungan bulan. Tapi puluhan tahun.


Hal lain yang anda perlu ketahui adalah, sebuah bank pun, untuk bisa memberikan bunga sebagai imbal balik deposito pun itu ada perhitungannya. Artinya, bunga yang diberikan itu sudah diperhitungkan sebelumnya sebelum bank menawarkannya kepada nasabah.


Jadi jika ada orang datang kepada anda dan menawarkan investasi dengan iming-iming imbal balik yang besar dalam waktu singkat, sebaiknya berhati-hatilah. Cari informasi sebanyak-banyaknya tentang investasi tersebut sebelum anda memutuskan untuk menginvestasikan uang anda kepada orang yang menawarkan tersebut.


3.    Gunakan lembaga investasi yang sudah memiliki izin resmi


Hal ini penting. Seiring dengan munculnya orang-orang atau lembaga investasi yang memberikan tawaran, anda perlu perhatikan apakah mereka telah memiliki izin dan diawasi oleh badan regulator dalam hal ini adalah OJK. Langkah Ini bisa meminimalisir resiko anda terjerat oleh lembaga atau orang yang menawarkan investasi tapi tidak jelas investasi nya seperti apa.           
 Tidak mudah sebuah lembaga keuangan untuk mendapatkan izin beroperasi dari OJK. Banyak persyaratan yang harus dipenuhi oleh suatu lembaga untuk mendapatkan izin beroperasi dari OJK.

4.    Investasi terbesar adalah kesabaran

Inilah tantangan terbesar bagi seorang yang ingin berinvestasi. Anda harus sadari, bahwa orang yang kaya raya saat ini , dia sudah memulai nya puluhan tahun yang lalu. Sebuah quotes dari Warren Buffet 
Berinvestasi itu ibarat sebuah pohon, anda menanamnya sekarang, anda perlu menunggu beberapa waktu untuk pohon itu tumbuh besar dan berbuah. Demikian pula investasi. Untuk menikmati hasilnya, anda perlu  bersabar untuk menunggu investasi anda membuahkan hasil sesuai yang anda impikan.

Godaannya memang besar. Mulai dari rasa tamak, rasa ingin cepat kaya, iri dengan apa yang diraih oleh orang lain dan lain sebagainya.

Anda tidak perlu takut untuk beriventasi. Adalah hal yang wajar jika anda memiliki cita-cita ingin menjadi kaya melalui investasi. Tidak ada yang salah dengan itu. Anda hanya perlu lebih cermat saja untuk mengidentifikasi agar tidak terjebak dalam investasi yang tidak jelas.

Tidak sulit sebetulnya untuk mengidentifikasi sebuah investasi itu apakah investasi sungguhan atau investasi bodong. Semuanya dimulai dari diri kita sendiri. Kendalikan persepsi kita tentang “menjadi kaya”. Tidak ada kekayaan yang bisa anda capai dengan cara instant kecuali anda meraihnya dengan cara yang tak wajar.








Kamis, 11 Oktober 2018

Perlukah Berhutang?


Banyak orang yang memiliki keinginan ini dan itu. Ingin membeli gadget keluaran terbaru, ingin jalan-jalan ke luar negeri, ingin punya mobil baru dan lain sebagainya. Ada yang mampu membelinya langsung dengan penghasilan atau tabungannya. Namun ada banyak pula yang membelinya dengan cicilan berbunga rendah atau bahkan tanpa bunga alias dengan berhutang. Perlukah melakukan itu?



Hutang

Jika mendengar kata-kata hutang ada yang merasa itu adalah hal yang harus dihindari, adapula yang merasa itu adalah hal yang lumrah dilakukan.

Dulu, orang tua kita mungkin sebisa mungkin menghindari untuk berhutang jika mereka menginginkan sesuatu yang sifatnya bukanlah suatu kebutuhan. Semisal, Jika belum memiliki motor, maka lebih baik bersabar menabung dulu. Jika nanti uangnya sudah terkumpul, baru beli motor. Untuk sementara bisa menggunakan sepeda atau angkutan umum jika bepergian jauh.

Zaman orang tua kita dulu, Berhutang cukup sulit dilakukan. Berhutang lebih banyak dilakukan kepada teman,kerabat atau saudara. Jika ingin berhutang untuk modal usaha atau membeli rumah baru lah dating ke lembaga keuangan seperti koperasi atau bank.

Lalu bagaimana dengan sekarang?

Seiring dengan berkembangnya zaman, orangan menganggap bahwa berhutang adalah  ‘solusi’ bagi mereka yang menginginkan sesuatu namun belum memiliki uang yang cukup. Saat ini banyak lembaga-lembaga keuangan yang menawarkan pinjaman-pinjaman uang. Mulai dari koperasi, bank, multifinance atau yang sedang nge-trend saat ini yaitu Fintech. Mereka menawarkan pinjaman dengan pembayaran dalam bentuk cicilan ditambah bunga untuk menarik para calon peminjam uang.
Hutang saat ini justru menjadi ladang bisnis bagi sebagian orang atau perusahaan. Bahkan pengajuannyapun bisa memalui online. Luar biasa mudah bukan? Jika dulu sulit sekali untuk meminjam uang, sekarang justru banyak  yang memfasilitasi.

Namun, yang menjadi pertanyaan, perlukah kita berhutang?
Kita adalah orang yang tahu akan kebutuhan kita masing-masing. Setiap orang memiliki kebutuhan yang tidak sama. Namun haruskah kita berhutang untuk memenuhi kebutuhan tersebut?
Sebelum memutuskan apakah kita perlu berhutang atau tidak, kita perlu tahu terlebih dahulu mana yang termasuk kebutuhan mana yang keinginan.

Saat ini, banyak orang berhutang hanya sebatas memenuhi keinginannya saja daripada untuk membiayai kebutuhannya.  Bahkan banyak yang berhutang untuk sekedar memenuhi gaya hidupnya. Membeli gadget baru hingga puluhan juta. Jalan-jalan ke luar negeri agar dibilang tidak ketinggalan zaman dll. Alih-alih untuk memenuhi kebutuhan yang terjadi malah sebaliknya. Dan setelah memenuhi keinginannya, tidak jarang akhirnya justru terjebak ke dalam masalah lilitan hutang. Credit card overlimt, pinjaman bank yang tertunggak dan berbagai masalah keuangan lainnya. Mengerikan bukan?

Lalu muncullah pertanyaan, apakah kita tidak boleh melakukan itu? Jawabannya tentu saja boleh. Namun, bukankah amat disayangkan jika kita harus berhutang hanya untuk memenuhi keinginan yang nikmatnya hanya sesaat itu. Berapa lama anda merasa puas memiliki sebuah ponsel baru yang anda beli dengan harga puluhan juta? Sedangkan ponsel adalah barang yang nilainya terus menyusut. Tidak ada value yang lebih dari sebuah gadget baru melainkan itu hanya kepuasan di awal. Ini lah yang perlu di sadari. Amat disayangkan bukan jika itu harus anda beli dengan beli dengan harus berhutang?
Berbeda halnya jika anda membeli sesuatu yang anda butuhkan. Misalnya rumah. Dimana anda bisa tinggal di dalamnya sesuka anda. Nilainya pun bisa menanjak naik. Karena rumah adalah salah satu instrument investasi yaitu property yang nilainya bisa terus bertumbuh.

Hutang Produktif vs Hutang Konsumtif
Selain membedakan antara kebutuhan dan keinginan, yang perlu anda perhatikan adalah apakah anda berhutang untuk sesuatu yang produktif atau hanya untuk hal-hal yang bersifat konsumtif.

Bagaimana hutnag yang produktif itu? Hutang yang produktif adalah ketika anda berhutang dengan tujuan untuk keuntungan pada anda. Contohnya anda berhutang untuk membuka usaha. Walaupun ada resiko usaha anda rugi, tapi tetap saja tujuan anda bertujuan untuk mencari untung atau profit. Atau anda berinvestasi. Anda membeli saham di pasar modal, reksadana, obligasi, property atau emas. Yang mana akan memberikan keuntungan pada anda pada jangka waktu tertentu.

Sebaliknya apa itu hutang konsumtif? Kebalikan dari yang produktif, hutang konsumtif adalah anda berhutang untuk hal-hal yang tidak memberikan keuntungan atau nilai tambah pada anda. Hutang konsumtif ini biasanya dilakukan orang-orang hanya untuk memenuhi gaya hidupnya ketimbang mendapatkan manfaat sesuangguhnya. Contohnya anda membeli sebuah smartphone dengan harga puluhan juta. Anda mungkin hanya membutuhkan beberapa fitur saja dari smartphone tersebut sehingga tidak perlu berhutang untuk mendapatkannya. Anda bisa mempertimbangkan apa saja manfaat yang anda perlukan dari barang tersebut. Sehingga anda akan berfikir perlukah berhutang untuk membelinya.

Lalu apakah tidak boleh kita berhutang?
Berhutang boleh saja. Namun anda perlu perhatikan apakah anda berhutang untuk memenuhi kebutuhan atau hanya untuk memenuhi keinginan anda. Perlu untuk mempertimbangkan semuanya sebelum anda memutuskan berhutang. Terutama kemampuan anda membayar. Anda perlu pertimbangkan penghasilan anda untuk bisa menentukan kemampuan anda membayar hutang. Jika anda tidak punya penghasilan tetap, berhutang akan sangat beresiko bagi keuangan anda. Berhutang bisa memberikan solusi bagi keuangan anda. Namun, jika anda salah mengelolanya justru akan menjerumuskan anda ke dalam masalah. 

Jangan paksakan untuk memiliki sesuatu hanya karena dorongan emosional yang hanya memberikan kepuasan sementara saja. Karena ini bisa menjadi pangkal masalah keuangan anda.  Pertimbangkanlah lagi dan lagi sebelum anda memutuskan untuk mengambil hutang. Pikikan juga faktor-faktor lain seperti bunga, denda, jaminannya. Karena biar bagaimanapun, hutang adalah hutang. Anda konsekuensi yang harus anda terima dengan anda berhutang. 






Selasa, 28 Agustus 2018

Perlukah Memiliki Kartu Kredit?


Saat kini, kartu kredit/credit card tentunya bukan barang yang asing lagi bagi anda. Kartu keluaran bank yang bisa anda pakai untuk berbelanja atau tarik tunai ini sudah sangat umum dimiliki oleh orang-orang. Dengan kartu kredit, anda tidak perlu repot-repot membawa uang tunai yang banyak. Jika anda berbelanja di pusat perbelajaan(mall), makan di restoran atau bahkan untuk sekedar minum kopi di coffee shop, mesin-mesin edc untuk menggesekan kartu kredit sudah tersedia. Sehingga anda bisa tinggal menggesek atau memasukan kartu anda pada mesin tersebut lalu bayar sesuai dengan angka yang ter tera di bill. Mudah bukan? Ya mudah memang. Kita tidak perlu membawa uang cash. Cukup dengan sebuah kartu lalu saya bisa membeli apa yang saya inginkan.
Namun, dibalik semua persepsi kita terhadap kartu kredit, ada hal-hal yang perlu kita ketahui untuk pertimbangan kita memiliki kartu kredit. Apa saja itu?




       1. Kartu Kredit = Kartu Hutang
Tidak salah rasanya menyebut kartu ini adalah sebagai salah satu sarana kita untuk berhutang. Berhutang pada bank tentunya. Ketika anda menggesekkan kartu kredit pada mesin di kasir tempat anda berbelanja atau anda melakukan tarik tunai di ATM, pada saat itu pula terjadi akad hutang antara anda dengan bank. Yang mana pada tanggalnya nanti, jumlah tersebut akan ditagihkan pada anda dan harus anda bayarkan paling lambat pada saat tanggal jatuh  tempo nya. Hutang tentunya harus dibayar dan dilunasi. Jika anda ngemplang tentu saja ada konsekuensi yang akan anda hadapi. Didatangi debt collector misalnya.

     2. Kartu Kredit bukan extra money
Terkait dengan point nomor 1 di atas, banyak orang yang terjebak dengan cara berfikir bahwa kartu kredit adalah extra money untuk mereka. Ini lah pola pikir yang banyak menyebabkan orang terjebak dalam lilitan hutang kartu kredit. Mereka berbelanja  memakai limit yang tersedia di kartu kredit mereka seolah-olah itu adalah uang ekstra di luar penghasilan mereka. Tidak sedikit memang kasus ini terjadi dan tidak sedikit pula orang-orang yang keuangannya hancur karena pemahaman ini. Sekali lagi, limit kartu kredit anda bukanlah uang ekstra yang bisa anda pakai sesuka anda.

      3. Kartu Kredit antara masalah dan solusi.
Jika dilihat dari kegunaannya, kartu kredit layaknya seperti 2 sisi mata uang.    Dia bisa menjadi solusi namun tidak jarang dia juga bisa menjadi masalah        terbesar keuangan anda. Dia bisa menjadi solusi anda ketika anda tidak ada uang cash. Ingat! Ini hanya sebagai pengganti uang cash. Semisal, anda dalam kondisi darurat, keluarga anda sedang dirawat di rumah sakit. Anda harus membayar sejumlah uang untuk jaminan di rumah sakit. Uang cash anda tidak cukup. Atau Limit transaki ATM anda tidak cukup. Anda bisa menggunakan kartu kredit untuk membayar jaminan tersebut. Nantinya anda bisa bayarkan melalui rekening bank anda. Dalam hal ini kartu kredit bisa menjadi solusi untuk masalah anda. Namun sebaliknya, jika anda menggunakan seenaknya kartu kredit anda tanpa mempertimbangkan kemampuan anda untuk membayar tagihannya, di sinilah masalah akan muncul dari kartu kredit anda.

      4. Lakukan Selalu Pembayaran Full
Pada kartu kredit, ada fitur pembayaran secara tidak full. Setiap bulannya pada lembar tagihan anda, ada tertera nominal jumlah pemakaian kartu kredit anda pada periode tersebut. Di situ juga di sebutkan berapa jumlah pembayaran minimum yang bisa anda lakukan. Yaitu hanya sebesar 10% dari total tagihan anda. Misal tagihan anda adalah satu juta rupiah, maka anda bisa membayar minimal 10% nya yaitu serratus ribu rupiah saja. Menggiurkan bukan? Tapi perlu anda ketahui, ini adalah salah satu sumber masalah anda dengan kartu kredit anda. Jika anda mengunakan fitur pembayaran minimum tersebut, maka sisa jumlah tagihan anda akan dikenakan bunga. Lalu pada tagihan bulan depannya, jumlahnya akan menjadi lebih besar karena jumlah sisa tagihan tadi sudah berbunga. Jika anda membayar lagi dengan pembayaran minimum lagi, maka sisa tagihan anda akan kembali berbunga dan berbunga lagi. Begitu seterusnya hingga jumlah total tagihan anda menjadi lebih besar dari semula padahal anda membayar setiap bulannya. Maka dari itu, sebaiknya hindari pembayaran tagihan dengan pembayaran minimum. Lakukan pembayaran full untuk setiap tagihan kartu kredit anda.

 5. Perhatikan selalu tanggal tagihan dan tanggal jatuh tempo tagihan anda
Ini adalah hal yang sangat mendasar dan penting yang  perlu diperhatikan oleh para pengguna kartu kredit . Anda harus tahu kapan tagihan kartu kredit anda dating dan kapan jatuh tempo pembayaran tagihan anda. Ini berguna untuk menghindari denda dan bunga yang timbul akibat keterlambatan. Jangan pernah menunda hingga jatuh tempo pembayaran kartu kredit anda terlewat. Karena dari situ ada bunga dan denda yang harus anda bayar di bulan berikutnya.


Bagi anda yang berniat untuk memiliki kartu kredit, kelima hal di atas bisa menjadi dasar pertimbangan anda untuk memiliki kartu kredit. Dengan memperhatikan hal-hal tersebut, anda bisa memutuskan apakah anda siap atau tidak untuk memakai kartu kredit.

Bagi anda yang sudah memiliki kartu kredit, hindari gaya hidup konsumtif dan hedonis. 2 hal ini jika “bertemu” dengan kartu kredit anda, ini bisa menjadi masalah besar untuk keuangan anda. Banyak orang bergaya hidup mewah dengan kartu kreditnya. Pada akhirnya jatuh ke dalam masalah keuangan yang rumit bahkan berujung pada kebangkrutan.

Silahkan kembalikan kepada diri anda masing-masing. Sesuaikan dengan kebutuhan anda. Anda lebih tahu apakah anda perlu memiliki kartu kredit atau tidak. 

Senin, 27 Agustus 2018

Yuk,Berinvestasi!

Mengenal Investasi

Pengertian secara umum, investasi adalah penanaman modal yang bisa berupa asset atau dana yang dilakukan seseorang atau perusahaan dengan tujuan untuk memperoleh keuntungan dari pertumbuhan nilainya dalam jangka waktu tertentu.

Banyak yang belum menyadari sebetulnya bahwa apa yang mereka lakukan selama ini terhadap asset dan uang mereka adalah sebuah investasi. Contohnya seseorang membeli emas atau property (rumah atau tanah) kemudian disimpan untuk jangka waktu tertentu(biasanya tahunan). Kemudian harganya meningkat lalu dia menjualnya dan mendapatkan keuntungan. Atau seseorang menempatkan dananya pada deposito di sebuah bank. Kemudian setelah beberapa bulan mendapatkan keuntungan berupa bunga.

Investasi sebetulnya sudah dicontohkan oleh orang tua kita sejak dahulu. Dulu ibu saya membeli emas untuk disimpan. Dan dijual ketika anak-anaknya sudah memasuki usia sekolah.

Contoh lainnya, dahulu harga tanah di daerah Tangerang Selatan bisa dikatakan murah dan terjangkau.  Orang yang membeli tanah atau memiliki rumah di daerah ini mungkin bias dibilang sangat beruntung. Karena sekarang pertumbuhan harga tanah dan rumah di daerah ini sangat tinggi.

Banyak orang yang masih ragu-ragu untuk melakukan investasi. Dengan alasan takut rugi, Tidak punya modal, beresiko, dll. Well, di sini saya mencoba memberikan sedikit sharing mengenai bagaimana itu investasi. Untuk detail instrument investasinya akan saya sampaikan dalam artikel terpisah. 


Karakteristik investasi
Setiap investasi memiliki karakteristik atau ciri-ciri. Dari karakteristik tersebut, kita bisa tentukan apa instrument investasi yang akan kita pilih. Ada 3 karakteristik penting yang harus diketahui oleh para calon investor
  •        Memiliki Tujuan
  •      Memiliki Jangka Waktu
  •      Memiliki Resiko


Memiliki Tujuan
Setiap investasi yang kita lakukan, kita harus mengetahui untuk apa kita melakukan investasi tersebut. Semisal, kita ingin membeli emas untuk kebutuhan anak sekolah. Atau kita menaruh uang di deposito untuk kebutuhan menikah, membeli rumah dan lain-lain.

Memiliki Jangka Waktu
Setiap investasi memiliki jangka waktu tertentu. Contoh, kita membeli saham suatu perusahaan di pasar modal. Maka kita harus mengetahui berapa lama jangka waktu yang kita perlukan sehingga investasi tersebut mulai memberikan keuntungan.


Memiliki Resiko
Semua investasi memiliki resiko masing-masing. Resikonya ada yang rendah, menengah atau tinggi. Untuk yang resiko rendah, deposito, emas dan property bisa menjadi pilihan. Untuk yang menengah, kita bisa membeli reksa dana. Dan Jika anda adalah seorang risk taker, saham bisa menjadi pilihan. Karena berinvestasi di pasar modal memiliki resiko yang cukup besar. Dan resiko ini tentunya berbanding lurus dengan keuntungan atau hasil yang di dapat. Maka dari itu investasi memiliki prinsip high risk high return. Ketahui resiko dari masing-masing instrument investasi lalu cocokan dengan karakter anda. Yang ragu-ragu dan lebih suka bermain aman, baiknya jangan pilih investasi yang beresiko tinggi seperti saham atau forex. 

Macam-Macam Investasi 

Investasi dapat dikategorikan ke dalam beberapa kategori.
Pertama, Kategori investasi berdasarkan jangka waktu.
Dalam berinvestasi produk investasi yang kita pilih bisa ditentukan berdasarkan jangka waktu yang kita tentukan. Jika anda ingin dalam jangka waktu yang panjang emas dan property bisa menjadi pilihan anda dalam berinvestasi. Atau saham-saham yang dikategorikan saham-saham bagus(bluechip). Anda punya sejumlah uang lalu anda belikan saham. Dan tunggu lah beberapa tahun ke depan.

Untuk investasi dengan jangka waktu yang singkat, anda bisa membuka deposito atau tabungan rencana. Selain waktunya cepat, keuntungan yang anda dapat juga sudah pasti jika anda berinvestasi dengan deposito atau tabungan.
Trading saham dan forex bisa menjadi pilihan. Namun, anda harus paham betul resiko nya jika ingin berinvestasi dengan instrument ini. Karena saham dan forex adalah investasi dengan resiko yang tinggi.

Kedua, investasi berdasarkan resiko.
Masing-masing investasi memiliki resiko tersendiri. Tidak ada investasi yang bebas resiko. Bahkan untuk deposito atau tabungan yang selama ini orang menganggap aman-aman saja. Tetap saja ada resikonya seperti bank tempat membuka depositonya bankrupt.
Maka dari itu, kenalilah resiko dari masing-masing instrument investasi yang ingin anda lakukan.
Jika dikategorikan berdasarkan resiko, ada 3 kelompok kategori investasi.

Resiko Rendah
Deposito dan tabungan adalah investasi yang tergolong beresiko rendah. Kecil sekali kemungkinan kita akan kehilangan uang kita jika berinvestasi pada instrument ini. Selain deposito dan tabungan, emas, ORI, asuransi investasi juga bias menjadi pilihan untuk anda yang memiliki sifat konservatif atau tidak terlalu suka mengambil resiko. Namun, hal yang perlu diingat adalah, untuk instrument investasi ini anda tidak bias berharap return atau imbal balik yang besar. 

Resiko Menengah

Sedikit meningkat, instrument investasi dengan resiko yang cukup moderat. Artinya tidak rendah namun juga tidak tinggi. Belakangan yang sedang marak adalah reksa dana,unit link dan property. Mengapa disebut menengah, karena ada potensi resiko kita mengalami kerugian. Contoh reksa dana, semisal kita membeli reksa dana saham hari ini, lalu ternyata pasar saham sedang tidak bagus, ada kemungkinan kita bisa mengalamin kerugian. Namun, resiko dari reksa dana ini adalah karena investasi kita diurus oleh seorang fund manager yang memiliki pengetahuan tentang reksa dana dan pasar saham.  Sehingga resiko berinvestasi di reksa dana bisa diminimalisir. Untuk imbal baliknya, instrument investasi ini lebih tinggi daripada instrument investasi beresiko rendah.

Resiko Tinggi
Yang terakhir adalah instrument investasi resiko tinggi. Jika anda adalah seorang yang suka “bermain-main” dengan resiko dan berani, investasi dengan resiko besar cocok untuk anda. Contohnya adalah saham dan forex. Kisah indah orang-orang yang berinvestasi di pasar saham atau forex adalah mereka bias gaining keuntungan yang besar dalam waktu yang relative singkat. Namun, tak jarang pula banyak yang rugi dan bangkrut karena berinvestasi pada instrument investasi dengan resiko tinggi. Anda mungkin bisa membaca kisa sukses Warren Buffet atau Lo Kheng Hong. Namun, untuk bahan pertimbangan anda juga bisa membaca cerita Bernard Maddof atau Jese Livermore.


Nah, mulai sekarang pahamilah instrument-instrument investasi yang akan anda jalain. Buat rencana dan tujuan investasi anda dan pahami resikonya. Sesuaikan karakter anda dengan resiko yang akan anda hadapi jika anda memilih salah satu instrument investasi.


Jangan pernah ikut-ikutan dengan orang lain. Karena karakter anda tidak sama dengan orang lain dan jangan pernah tergiur dengan iming-iming imbal balik yang besar dalam waktu yang singkat agar anda terhindar dari investasi bodong.

Satu prinsip mendasar yang anda harus pahami dalam berinvestasi adalah, investasi itu ibarat anda menanam pohon. Dia memerlukan waktu untuk tumbuh dan berbuah. Dan kunci terbesar investasi adalah SABAR.

Selamat berinvestasi!



© raniprovit
Maira Gall