Selasa, 27 Agustus 2019

Ketika ditinggal oleh orang yang dicintai ?



Hari ini (12 Agustus) diskusi saya dengan Messa via WA cukup berat plus bikin baper, mengenai apa yang harus dilakukan ketika ditinggalkan oleh pasangan hidup selamanya (Meninggal), kok tiba-tiba bahas hal yang nyeremin banget?
Hal ini berawal dari cerita Messa, teman kantornya meninggal saat melahirkan anak ketiga dengan usia yang cukup muda. Sesampainya di rumah sakit, Messa melihat suami dan anak almarhumah sedang menangis dan terlihat sangan terpukul, semoga almarhumah Khusnul Khotimah dan keluarga yang ditinggalkan tabah, Aamiin YRA. Lalu Messa bilang, sepertinya harus dibicarakan dengan pasangan mengenai kematian ini. Sontak saya langsung membalas, sudah Mes, gue sudah pernah bahas hal ini dengan suami. Apa yang harus dilakukan jika salah satu dari kami harus menghadap terlebih dahulu kehadapan-Nya, tentu tidak ada yang ingin ditinggalkan oleh pasangan, terlebih masih memiliki tanggung jawab anak, karena tidak mudah pastinya membesarkan anak seorang diri, tapi yang perlu diingat, tidak pernah ada yang tau sampai kapan kita diberi umur oleh-Nya, sehingga perlu ada persiapan saat masih ada umur, apa yang harus dilakukan.

Tentu hal kayak gini kalau diomongin terdengar mudah ya, padahal mah prakteknya, pasti bakal tersayat-sayat. Putus jaman cinta monyet aja saya galau to the max, gimana pasangan yang udah bertahun-tahun tinggal bareng, membangun rumah tangga bersama, ngerasain manis dan pahitnya bersama, serta membesarkan anak bersama, pasti ngga akan mudah. Saat bahas sama suami aja saya mewek, iya saya anaknya emang baperan. Sebelum menulis ini, saya sempat menanyakan ke teman-teman instagram saya, saya ingin tau juga sih gimana dengan pasangan lain. Pertanyaan saya saat itu Sudahkah membahas mengenai kematian dengan suami/istri? Tentang apa?
Jawaban beberapa teman dan hal yang saya dan suami pernah bahas, akan saya share ya disini.

Menikah kembali
Saat ditinggal pasangan, tentu sah saja kan bagi yang masih hidup untuk menikah kembali, akan tetapi untuk perempuan bagi agama yang saya anut, saat di akhirat kelak tidak akan bertemu kembali dengan istrinya jika istrinya telah menikah lagi. Selain hal itu, sebenarnya fokus utama jika ditinggalkan pasangan jika telah memiliki anak sih, karena anak akan memilki orang tua sambung. Jadi perlu dibicarakan kriteria pasangan (selanjutnya) seperti apa yang tepat untuk menjadi orang tua sambung si anak. Banyak kan diluaran sana, sayang sama ibu atau bapaknya, belum tentu dia sayang dengan anaknya huhu. Jangan sampai anak kita tidak terurus dan tidak bahagia ketika orang tua nya memilih menikah kembali dengan pasangan yang tidak tepat.


Pengasuhan Anak
Bagi yang menikah dan sudah ditipkan amanah anak, penting sekali untuk membahas ini, untuk saya dan suami, masa depan anak itu prioritas utama. Sehingga diperlukan komunikasi sejak sekarang, siapa yang akan mengasuh anak kami kelak, sampai rutinitas seperti apa yang akan dilakukan saat orang tua nya kerja apakah akan tetap seperti sekarang atau berbeda. Lalu si anak akan tinggal dimana, apakah akan tetap bersama salah satu orang tuanya, atau dititipkan ke keluarga terdekat.

Move On
Tentu tidak akan yang mudah ditinggalkan oleh pasangan. Jangankan pasangan yang masih muda, yang sudah tua pun saat ditinggalkan oleh pasangannya akan kehilangan. Seperti mami mertua saya contohnya, daddy mertua baru saja meninggalkan kami di bulan Juni kemarin. Saat kami sedang main ke rumah beliau, sering sekali beliau melontarkan begini "Kangen juga ya berantem kecil sama daddy" kalau mami ngomong gitu, saya masih suka berkaca-kaca dan suka kepikiran sendiri, apa yang akan terjadi oleh saya jika tiba-tiba saya ditinggalkan selamanya sama suami. Mami yang ditinggalkan dengan anak-anak yang sudah dewasa dan ekonomi yang cukup saja sungguh terpukul, apalagi pasangan muda yang ditinggalkan masih memiliki tanggung jawab anak, pasti akan lebih berat. Untuk itu perlu dibicarakan juga hal apa yang akan dilakukan untuk move on. Kalau jawaban suami saya, dia perlu pindah tempat tinggal, karena rumah kami tentu banyak cerita kami, suka maupun duka, sehingga akan sering terbayang jika masih tinggal di tempat yang sama. Kalau saya, saya butuh menyendiri ntah berapa lama. Duh mewek, Semoga saya dan suami, serta yang baca tulisan saya ini ditakdirkan oleh-Nya bersama pasangan hingga kakek nenek kelak, aamiin.

Sumber Penghasilan
Tentu akan berbeda total penghasilannya jika salah satu pasangan meninggal. Terutama bagi ibu rumah tangga, jika suaminya seorang pegawai maka sumber penghasilan akan hilang. Bagi yang sama-sama bekerja pun akan ada jumlah penghasilan berbeda, ya karena salah satu sumber hilang. Perlu banget dibicarakan apa yang harus dilakukan ketika sumber penghasilan berkurang. Mungkin akan berbeda ya, jika istrinya ibu rumah tangga dan istrinya meninggal duluan, tentu tidak ada perbedaan dalam jumlah penghasilan suaminya.

Hutang dan Aset
Bersyukurlah yang tidak memiliki hutang, lalu gimana dengan yang memiliki hutang? Tentu mesti dibicarakan dengan pasangan, kalau pinjamannya untuk KPR biasanya ada asuransi jiwa, jika pinjaman atas nama yang meninggal maka akan lunas hutangnya, kalau kasusnya seperti ini aman. Lalu gimana kalau pinjaman atas nama pasangan yang hidup, sehingga cicilan akan terus berjalan, akankah ada kesulitan dalam pembayaran. Jika ada kesulitan dalam pembayaran, aset apa yang diperbolehkan dijual terlebih dahulu. Serta mesti jujur ke pasangan, aset pribadi apa yang dimiliki.

Asuransi Jiwa
Perlu menginfokan ke pasangan sih kalau menurut saya, terdaftar di asuransi jiwa atau tidak. Jika iya jelaskan polisnya. Peraturan asuransinya seperti apa, uang pertanggungannya, dll.


Pin/Password
Bagi pasangan yang menjunjung tinggi privacy, biasanya pasangannya tidak tau pin atm nya. Perlu loh di share, agar pasangannya kelak tidak kesulitan. Atau jika tidak ingin diberitaukan sekarang, bisa punya "kotak" privacy kali ya, tuliskan pin atm dan username disana. Lalu infokan ke pasangan, jika saya sudah tidak ada, silahkan buka kotak ini. Kuno ya 😅

Ingin dimakamkan dimana
Kenapa sih hal ini penting untuk kami? Karena kami sebisa mungkin ingin memberikan yang terbaik untuk pasangan, seperti persembahan terakhir untuk jasadnya gitu loh. Siapa tau kan ada tempat yang diinginkan untuk peristirahatan terakhirnya.

Kalau ada yang ngeh, saya menuliskan tanggal awal bicara dengan sahabat saya sudah cukup lama, sebenarnya saat itu saya sudah menuliskan setengah dari tulisan ini, kenapa baru saya selesaikan sekarang? Karena saya orangnya baperan, setiap mau melanjutkan saya sudah berkaca-kaca, sehingga urung melanjutkan. Tetapi akhirnya dilanjutkan juga, karena setiap buka blog liat masih ada yang di draft, gemes juga, udah setengah tulisan, sayang kan kalau ngga di share.

Sekian tulisan saya kali ini, untuk menyelesaikannya penuh drama, bentar-bentar berkaca-kaca huhu. Kalau kalian ada yang pernah sharing juga dengan pasangan, boleh loh sharing disini apa saja yang dibicarakan ketika ditinggal pasangan.



Tidak ada komentar

Posting Komentar

Silahkan Komen Disini

© raniprovit
Maira Gall