Kamis, 11 Oktober 2018

Perlukah Berhutang?


Banyak orang yang memiliki keinginan ini dan itu. Ingin membeli gadget keluaran terbaru, ingin jalan-jalan ke luar negeri, ingin punya mobil baru dan lain sebagainya. Ada yang mampu membelinya langsung dengan penghasilan atau tabungannya. Namun ada banyak pula yang membelinya dengan cicilan berbunga rendah atau bahkan tanpa bunga alias dengan berhutang. Perlukah melakukan itu?



Hutang

Jika mendengar kata-kata hutang ada yang merasa itu adalah hal yang harus dihindari, adapula yang merasa itu adalah hal yang lumrah dilakukan.

Dulu, orang tua kita mungkin sebisa mungkin menghindari untuk berhutang jika mereka menginginkan sesuatu yang sifatnya bukanlah suatu kebutuhan. Semisal, Jika belum memiliki motor, maka lebih baik bersabar menabung dulu. Jika nanti uangnya sudah terkumpul, baru beli motor. Untuk sementara bisa menggunakan sepeda atau angkutan umum jika bepergian jauh.

Zaman orang tua kita dulu, Berhutang cukup sulit dilakukan. Berhutang lebih banyak dilakukan kepada teman,kerabat atau saudara. Jika ingin berhutang untuk modal usaha atau membeli rumah baru lah dating ke lembaga keuangan seperti koperasi atau bank.

Lalu bagaimana dengan sekarang?

Seiring dengan berkembangnya zaman, orangan menganggap bahwa berhutang adalah  ‘solusi’ bagi mereka yang menginginkan sesuatu namun belum memiliki uang yang cukup. Saat ini banyak lembaga-lembaga keuangan yang menawarkan pinjaman-pinjaman uang. Mulai dari koperasi, bank, multifinance atau yang sedang nge-trend saat ini yaitu Fintech. Mereka menawarkan pinjaman dengan pembayaran dalam bentuk cicilan ditambah bunga untuk menarik para calon peminjam uang.
Hutang saat ini justru menjadi ladang bisnis bagi sebagian orang atau perusahaan. Bahkan pengajuannyapun bisa memalui online. Luar biasa mudah bukan? Jika dulu sulit sekali untuk meminjam uang, sekarang justru banyak  yang memfasilitasi.

Namun, yang menjadi pertanyaan, perlukah kita berhutang?
Kita adalah orang yang tahu akan kebutuhan kita masing-masing. Setiap orang memiliki kebutuhan yang tidak sama. Namun haruskah kita berhutang untuk memenuhi kebutuhan tersebut?
Sebelum memutuskan apakah kita perlu berhutang atau tidak, kita perlu tahu terlebih dahulu mana yang termasuk kebutuhan mana yang keinginan.

Saat ini, banyak orang berhutang hanya sebatas memenuhi keinginannya saja daripada untuk membiayai kebutuhannya.  Bahkan banyak yang berhutang untuk sekedar memenuhi gaya hidupnya. Membeli gadget baru hingga puluhan juta. Jalan-jalan ke luar negeri agar dibilang tidak ketinggalan zaman dll. Alih-alih untuk memenuhi kebutuhan yang terjadi malah sebaliknya. Dan setelah memenuhi keinginannya, tidak jarang akhirnya justru terjebak ke dalam masalah lilitan hutang. Credit card overlimt, pinjaman bank yang tertunggak dan berbagai masalah keuangan lainnya. Mengerikan bukan?

Lalu muncullah pertanyaan, apakah kita tidak boleh melakukan itu? Jawabannya tentu saja boleh. Namun, bukankah amat disayangkan jika kita harus berhutang hanya untuk memenuhi keinginan yang nikmatnya hanya sesaat itu. Berapa lama anda merasa puas memiliki sebuah ponsel baru yang anda beli dengan harga puluhan juta? Sedangkan ponsel adalah barang yang nilainya terus menyusut. Tidak ada value yang lebih dari sebuah gadget baru melainkan itu hanya kepuasan di awal. Ini lah yang perlu di sadari. Amat disayangkan bukan jika itu harus anda beli dengan beli dengan harus berhutang?
Berbeda halnya jika anda membeli sesuatu yang anda butuhkan. Misalnya rumah. Dimana anda bisa tinggal di dalamnya sesuka anda. Nilainya pun bisa menanjak naik. Karena rumah adalah salah satu instrument investasi yaitu property yang nilainya bisa terus bertumbuh.

Hutang Produktif vs Hutang Konsumtif
Selain membedakan antara kebutuhan dan keinginan, yang perlu anda perhatikan adalah apakah anda berhutang untuk sesuatu yang produktif atau hanya untuk hal-hal yang bersifat konsumtif.

Bagaimana hutnag yang produktif itu? Hutang yang produktif adalah ketika anda berhutang dengan tujuan untuk keuntungan pada anda. Contohnya anda berhutang untuk membuka usaha. Walaupun ada resiko usaha anda rugi, tapi tetap saja tujuan anda bertujuan untuk mencari untung atau profit. Atau anda berinvestasi. Anda membeli saham di pasar modal, reksadana, obligasi, property atau emas. Yang mana akan memberikan keuntungan pada anda pada jangka waktu tertentu.

Sebaliknya apa itu hutang konsumtif? Kebalikan dari yang produktif, hutang konsumtif adalah anda berhutang untuk hal-hal yang tidak memberikan keuntungan atau nilai tambah pada anda. Hutang konsumtif ini biasanya dilakukan orang-orang hanya untuk memenuhi gaya hidupnya ketimbang mendapatkan manfaat sesuangguhnya. Contohnya anda membeli sebuah smartphone dengan harga puluhan juta. Anda mungkin hanya membutuhkan beberapa fitur saja dari smartphone tersebut sehingga tidak perlu berhutang untuk mendapatkannya. Anda bisa mempertimbangkan apa saja manfaat yang anda perlukan dari barang tersebut. Sehingga anda akan berfikir perlukah berhutang untuk membelinya.

Lalu apakah tidak boleh kita berhutang?
Berhutang boleh saja. Namun anda perlu perhatikan apakah anda berhutang untuk memenuhi kebutuhan atau hanya untuk memenuhi keinginan anda. Perlu untuk mempertimbangkan semuanya sebelum anda memutuskan berhutang. Terutama kemampuan anda membayar. Anda perlu pertimbangkan penghasilan anda untuk bisa menentukan kemampuan anda membayar hutang. Jika anda tidak punya penghasilan tetap, berhutang akan sangat beresiko bagi keuangan anda. Berhutang bisa memberikan solusi bagi keuangan anda. Namun, jika anda salah mengelolanya justru akan menjerumuskan anda ke dalam masalah. 

Jangan paksakan untuk memiliki sesuatu hanya karena dorongan emosional yang hanya memberikan kepuasan sementara saja. Karena ini bisa menjadi pangkal masalah keuangan anda.  Pertimbangkanlah lagi dan lagi sebelum anda memutuskan untuk mengambil hutang. Pikikan juga faktor-faktor lain seperti bunga, denda, jaminannya. Karena biar bagaimanapun, hutang adalah hutang. Anda konsekuensi yang harus anda terima dengan anda berhutang. 






Tidak ada komentar

Posting Komentar

Silahkan Komen Disini

© raniprovit
Maira Gall