Selasa, 02 Oktober 2012

Para bocah dijadikan sumber daya untuk meminta-minta

Kali ini, gue bakal cerita tentang peminta-minta.

Jadi, tante gue punya toko di Slipi. Gue sering main kesana. Ada yang menarik perhatian gue. Yaitu anak-anak peminta-minta. Kalau uangnya sudah dapat banyak, dia akan tukar uang recehnya ke toko tante. Akhirnya dengan keisengan dan keingintauan kehidupan mereka, nanya lah gue.
Gue : Dek, emang orang tua kamu mana?
Anak Kecil : Ada. Ibu juga ikut minta-minta sama aku. Bapak di rumah, kerjaannya main sama burung-burung peliharaannya.
Gue : hah?
whispered : Dalam hati (Gila, orang tua kayak apaan itu. Anaknya banyak dan disuruh jadi peminta-minta semua. Sedangkan bapaknya tinggal ongkang-ongkang kaki di rumah.)
Gue : Emang kamu berapa bersaudara dek?
Anak Kecil : 7, tapi yang 2 dijual.
Gue : (Shock) Dijual?
whispered : Astagfirullah. Manusia macam apa itu. Yang 5 dijadikan peminta-minta. Yang 2 dijual.
Gue : Terus uang setiap hari yang kamu dapetin, kamu kasih bapak kamu?
Anak Kecil : iya, kalau ngga dikasih nanti gue dipukulin sama bapak.
Gue : emang dalam sehari kamu dapet berapa?
Anak Kecil : Kalau bulan puasa sih bisa dapet 100ribu lebih. Kalau biasa, 50ribuan.
Gue : terus kamu setorin ke bapak semuanya?
Anak Kecil : Pokoknya minimal 20ribu. Tapi kan gue juga minta bareng ibu jadi ketauan kalau uangnya gue simpen.

Then, sejak saat itu, gue kalau ngasih pengamen atau peminta-minta suka mikir. Kasian tapi orang tua mereka kurang ajar, anak kecil dijadiin sumber daya penghasilan.

Adalagi cerita tentang pengemis.
Jadi, rumah tante gue, yang biasa gue tinggalin kalau pulang-pergi ke kampus itu deket sama mesjid. Nah, biasanya gue jam 8 udah sampe kampus. Ini jumat pagi ngga ada jadwal, baru ada kuliah 1/2 2. ada lagi yang menarik perhatian gue.
Yaitu 2 anak kecil peminta-minta dan ibunya.
Dia duduk di depan pager rumah tante. Gue perhatiin tuh dari kaca dalam rumah, ngapain itu anak dan ibunya. Ternyata mereka lagi berteduh sambil nunggu orang pulang shalat jumat. Udah mau pindah tuh gue dari intipan kaca, eh ada yang sangat menarik perhatian gue. Emaknya ngerokok booo. Ah gila, udah susah, mmalah ngerokok. And poor, waktu shalat jumat udah mau selesai. Ibu itu nyuruh anak-anaknya ke depan mesjid sedangkan ibunya asyik ngerokok depan rumah gue. Ah rasanya pingin gue maki-maki itu ibu. Anaknya disuruh minta-minta sedangkan ibunya asyik dengan rokoknya, yang berarti dia membuang-buang uang. Ngga habis pikir sama orang-orang yang terlihat ngga mampu. Tapi sikapnya kurang ajar sekali.

Miris sekali, meminta dijadikan profesi dan anak kecil sebagai sumber dayanya agar orang-orang akan berbelas kasihan. Dan ya, setelah denger cerita anak kecil di slipi tadi, berarti penghasilan biasa dia akan mencapai 1.500.000/bulan. Pantas saja, banyak orang-orang dari kampung berbondong-bondong ke Jakarta, walau hanya jadi pengemis. Ternyata penghasilan mereka, apalagi kalau anaknya banyak akan sangat cukup untuk mereka menimbun emas untuk dipamerkan ke kampung nanti. Walau anaknya ngga sekolah dan makan seadanya. Ada benarnya peraturan pemerintah yang melarang warga memberi kepada pengemis, ya karena factnya dilapangan kayak gini.

Tidak ada komentar

Posting Komentar

Silahkan Komen Disini

© raniprovit
Maira Gall