Negeri Para Bedebah

Seminggu yang lalu, menyempatkan diri jalan-jalan ke gramedia. Tujuannya sih mau nyari referensi buku untuk skripsi, eh ternyata gue tergoda untuk muter-muter di rak-rak yang berisikan novel. OMG, rasanya udah lama banget gue ngga menyentuh novel-novel dan membelinya. Niatnya sih cuma mau liat dan membaca sebentar, ah tetapi nafsu gue kalah, setelah membaca sekitar dua bab akhirnya gue memutuskan untuk membeli novel itu. Novel dengan judul Negeri Para bedebah - Tere Liye.


Baru selesai dibaca novelnya, karena bacanya pun agak ngumpet-ngumpet, bisa ngomel si mama kalau tau, bukannya getolin buku skripsi malah getolin novel :)) Karena gue kalau udah kecanduan novel parah, sehari habis dan bisa beli terus :D ya cukup lama sih baca buku ini, 433 halaman dibaca 1 setengah hari. Biasanya segitu sehari aja ngga sampe.

Membaca novel ini, gue teringat akan kasus bank di negeri ini yang sampai saat ini ngga selesai itu kasusnya dan tenggelam begitu aja kasusnya. Kita sebut saja bank X. Novel ini menceritakan seperti realnya kehidupan para koruptor, penjahat kelas atas. Sepertinya kurang lebih hal ini yang terjadi di kasus bank tersebut. Kenapa bank tersebut ngga kelar-kelar kasusnya, ya karena terlalu banyak yang terlibat dalam kasus tersebut. Dan saya yakin yang bermain di kasus tersebut pion-pion besar di negeri ini. Ya begitulah politik, ekonomi, dan pemerintahan. Makanya gue ngga pernah percaya apabila ada calon pemimpin negeri ini dekade sekarang yang bilangnya bersih, ngga korupsi, sangat sangat tidak percaya. Semoga dekade kedepannya akan benar-benar ada pemerintahan yang bersih. Yang mementingkan rakyatnya, bukan mementingkan pundi-pundi keuangan mereka pribadi. 

Ada hal yang menarik cuplikan kata dari novel ini, yang sangat saya ingat . 
Intinya begini, "Saya tidak memperdulikan kemiskinan, justru sebaliknya, kekayaan. Ketika dunia dikuasai oleh segelintir orang, nol koma dua persen, orang-orang yang terlalu kaya. Mengapa begitu? jika dunia dipenuhi orang miskin, kejahatan yang terjadi hanya di level rendah. Perampokan, mabuk-mabukan atau tawuran. Kaum seperti ini mudah diatasi, tidak sistematis, dan tidak ada visi-misi yang jelas, tinggal digertak, beres. Bayangkan apabila dunia ini diisi orang yang terlalu kaya dan terus rakus menelan sumber daya di sekitarnya. Mereka sistematis, bisa membayar siapa saja untuk menjadi kepanjangan tangan dan tidak takut dengan apapun. Sungguh tidak ada yang bisa menghentikan mereka kecuali sistem itu sendiri yang merusak mereka,"
See kan? dan saya setuju dengan isi dari novel tersebut. Apabila ada kekuasaan, kekayaan orang akan terlalu ego.

Novel ini juga sangat menjelaskan gimana birokrasi di Indonesia. Ya seperti kita lihat, gayus tambunan yang sudah jelas masuk penjara, tetapi bisa bepergian ke bali, hanya untuk nonton tennis open. Ya, berapa banyak polisi yang disuap, petugas bandara, dll. 

Salut sama Tere Liye, berani banget ngangkat cerita seperti ini. Dan gue sangat yakin, dia nulis kayak gitu, karena ngerti banget permainan kalangan-kalangan yang tak terjamah oleh rakyat biasa itu seperti apa.  

Sangat tidak menyesal beli buku ini disaat duit di dompet tiris setiris tirisnya. 

Komentar